the road

Saya sebetulnya sudah ingin mengurangi bacaan-bacaan depresif yang bisa membuat hujan di pagi hari ketika berangkat ke kantor dengan busway terasa lebih melankoli. Tapi ketika melihat satu edisi terjemahan The Road karya Cormac McCarthy (yang kebetulan saya tahu memenangkan beberapa penghargaan di luar negeri) teronggok di Gramedia dengan harga diskon, tanpa pikir panjang saya merogoh dompet dan langsung membeli.
Pikir saya, sejauh apa sih sebuah novel diskonan dapat memberi efek kepada sang pembaca?
Well, bayangkan tulang rusuk sebelah kirimu dipukul kuat-kuat dengan martil secara konstan; seperti itu kira-kira.
Buku ini berkisah tentang dua orang: seorang ayah dan anaknya yang berkelana di jalan raya di dunia paska apokalips. Ketika yang ada sepanjang pemandangan adalah debu kelabu dan ranting terbakar, air kotor yang -nyaris- tidak bisa diminum, rumah-rumah hancur bekas dijarah, dan mentari hanyalah terang dilepas awan menghitam.
Mereka berjalan melalui salju kelabu menahan lapar dan haus yang tidak henti-henti datang, dibawah ancaman "orang-orang jahat", begitu si anak menyebut mereka, kumpulan manusia kanibal yang bertahan hidup dengan berbagai cara yang diluar akal.
Akan tetapi apalah akal, pun baik dan buruk di mata dunia dimana hanyalah manusia spesies tersisa yang hidup di atasnya? Tidak ada binatang maupun tumbuhan, bahkan laut terdeskripsi sebagai kolam garam yang mati. Si ayah berkali-kali terbatuk parah hingga mengeluarkan darah, si anak hanya kulit terbalut tulang.
Di pinggang si ayah terselip pistol dengan dua peluru. Jika situasi mendesak dia tahu apa yang dilakukan. Satu letupan di kepala si anak, satu untuk dirinya sendiri. Menuju keabadian.
**
p.s. saya menyarankan untuk membeli versi aslinya, yang non-terjemahan. keindahan prosa terkadang tidak bisa disamai hasil translasi.
p.p.s. film berdasar novel ini sudah diproduksi, seperti bisa dilihat disini.

6 comments:
Setuju sih kalo neh buku emang depressing. Tapi...tetep bagus ^_^
Sudah baca Blindness-nya Jose Saramago?
Kayaknya menarik membandingkan keduanya, dimana entah kenapa para pengarang itu ga memberi nama ke para tokoh2nya...The Doctor, The Doctor's wife, The Boy...
belum :)
lagi keasikan baca john connolly yang seri charlie parker sih dari kemaren, hoho..
son, kalau di film, kok dua peluru itu tidak digunakan sebagaimana yg kau katakan ya?
kalau di buku, memang begitu adanya?
imam: emang ga dipake, di ending si bapaknya gak tega. gw blom nonton filmnya, bagus kah?
abis nonton filmnya, "Well, bayangkan tulang rusuk sebelah kirimu dipukul kuat-kuat dengan martil secara konstan; seperti itu kira-kira."
bagus dong ya berarti?
cari aaah :p
Post a Comment