jimi

the man

Ada beberapa orang (baca: orang terkenal) di masa lalu yang terkadang membuat kita berandai-andai apabila hidup mereka tidak sesingkat itu. Orang-orang hebat yang mati muda. Satu nama yang terlintas di kepala saya - selain Chairil Anwar, tentunya - adalah gitaris/vokalis/pencipta lagu, Jimi Hendrix.

Patut dicatat bahwa saya tidak mahir bermain gitar, ataupun orang yang mampu bernyanyi secara merdu. Tapi tampaknya hal tersebut yang membuat kekaguman atas orang kulit hitam bernama asli Johnny Allen Hendrix a.k.a James Marshall Hendrix ini tidak terbatas pada hal teknis ke-khayal-an permainan gitarnya.

Saya tidak tahu chord apa yang digunakan atau bagaimana tarian jari telunjuk hingga kelingking di lagu seperti Purple Haze dan Wild Things. Yang saya bisa lakukan adalah berkata "Yuk!" dan membiarkan Jimi menggandeng tangan saya ke baris depan pertunjukannya, untuk menyimak pengalaman yang disampaikan saat lengkingan gitar dan rayuan vokal sang maestro bercampur baur jadi satu.

Pengalaman seorang mantan tentara. Pengalaman seorang pemalu terhadap cara pandang terhadap dunianya masa itu. Pengalaman orang kulit hitam mengenai konflik rasial di salah satu masa terkelam Amerika. Pengalaman mengenai cinta dan kejenuhan akan ketenaran. Pengalaman mistisme Afrika. Pengalaman tentang kekagumannya terhadap Bob Dylan dan Elvis Presley. Pengalaman tentang LSD, LSD, dan lebih banyak LSD. Keseluruhan pengalaman yang semuanya dapat dirangkum dalam satu kata: heroisme.

Jimi adalah manusia yang mampu menuangkan kegilaan yang purba dalam Voodoo Chile, tetapi Jimi juga yang menciptakan salah satu lagu balada terbaik sepanjang masa melalui kesenduan lirikal di Little Wing. Maka jika ada seseorang berkata bahwa karya Jimi tidak lebih dari lagu-lagu dangkal yang berkisar mengenai narkotika, maka saya memilih untuk tersenyum dan menertawakan orang tersebut dalam hati ketika dia berjoget mengikuti lagu-lagu masa kini apapun yang diputar di MTV.

Tapi cerita tentang Jimi tidak melulu tentang ketenaran dan musikalitas yang luar biasa. Disana ada kesedihan yang lirih, sekilas tidak terasa, tapi tetap ada. Bocah pemalu yang seperti tersiksa akan bakat yang diberikan Tuhan kepadanya. Dan Jimi adalah tragedi. Tersedak muntahan bukan satu hal yang ingin saya jadikan sebuah post mortem di laporan kematian saya. Tapi itu yang terjadi di malam tanggal 18 September 1970; overdosis setelah pesta gila semalaman.

Di blog seseorang dapat menulis tentang apapun. Maka melalui blog ini, dengan gembira saya ingin menjawab pertanyaan yang ditanyakan dalam album pertamanya: "Are You Experienced?"

I am, Jimi. I always am.

2 comments:

plainami said...

Valleys of Neptune, gol.


yeaaa! \m/

sonn said...

iya ah. entar malem cari ah..